Jumat, 20 Juli 2012

Mitos Gunung Srandil



MITOS GUNUNG SRANDIL


M
I
T
O
S

G
U
N
U
N
G

S
R
A
N
D
I
L

 
Sejauh pengetahuan penulis, mitos adalah: cerita lama yang boleh dipercaya dan boleh tidak. Dalam karya ini, sama sekali tidak ada arus penekanan kepercayaan, percaya atau keharusan untuk mempercayai. Menurut penulis, kepercayaan itu telah ada dan berada jauh sebelum kita-kita terlahir ke dunia. Kepercayaan telah ada dan tertanam oleh Tuhan, kepada setiap insan seiring dengan awal diciptakannya makhluk-makhluk Tuhan. Kepercayaan akan selalu berkembang pada tiap-tiap insan sesuai dengan situasi naluri yang dikehendaki Tuhan, hingga berada di lubuk-lubuk yang sangat dalam, sampai tidak ada yang lebih dalam. Oleh sebab itu, banyak kalangan mengatakan pada hakekatnya kepercayaan yang sesungguhnya, tidak akan pernah goyah walau badai menerjang dan harimau menerkam. Atas dasar itulah, perkenankan penulis mengawali pemaparan yang belum pernah terpaparkan yaitu MITOS GUNUNG SRANDIL DAN SELOK dalam Karya Buku ini.
Seiring dengan perkembangan jaman saat ini, kita sering terperdaya dengan dampak-dampak tertentu. Perkembangan suatu zaman jelas tidak akan pernah lepas dengan perkembangan imajinasi manusia. Kita sebagai manusia, yang dikodratkan menjadi makhluk paling sempurna, alangkah bijaksananya apabila mau berimajinasi dari A sampai Z, artinya: mulai dari proses terjadinya alam semesta serta perobahan dari zaman ke zaman hingga kini kita berada pada zaman yang sedang kita hadapi.
Berbicara mengenai daya imajinasi secara lahir batin, tentu saja kita akan mengenal beberapa bagian dari ilmu, diantaranya; Ilmu Matematika (Ilmu Pasti), dan Ilmu Metafisika (Ilmu Tidak Pasti). Ilmu Matematika mempelajari kepastian secara lahiriah sedangkan Ilmu Metafisika mempelajari kepastian secara batiniah. Karena Ilmu  Metafisika mempelajari kepastian secara bantiniah, sedangkan batin adalah abstrak adanya, maka ilmu metafisika sangat erat dengan Ketuhanan atau cenderung mempelajari tentang keagungan dan kekuasan Tuhan, Sang Pencipta Alam. Berkaitan dengan mitos Gunung Srandil, sungguh sangat erat kaitannya dengan ilmu metafisika.
Pengetahuan mitos Gunung Srandil, tidak jauh daya imajinasi pembaca, saya ajak mengenal kembali sejarah kerajaan MAJAPAHIT, dari Dinasti Majapahit kita akan tahu Raja Brawijaya Ke I hingga Raja Brawijaya Ke V atau yang terakhir. Ada, tumbuh, berkembang, berubah dan musnah, adalah salah satu bagian dari hukum alam yang penuh kepastian. Dinasti Majapahit telah mencatat negara kesatuan atau negara nasional ke II di nusantara setelah kerajaan SRIWIJAYA, kejayaan kerajaan Majapahit yaitu,  pada masa pemerintahan raja Brahwijaya Ke-3 ( Tiga ), yang dikenal dengan julukan Prabu  Hayam Wuruk dengan Gelarnya : Sri Baginda Rajasa Negara. Pada saat itulah dikenal pula  seorang Patih dan sekaligus panglima perangnya, sebagai negarawan yang gagah, gigih, dan perkasa, dalam memper juangkan wilayah serta kesejahteraan rakyatnya yaitu : PATIH GAJAH MADA.
Patih Gajah Mada bertujuan sangat luhur, Sang Patih akan mewujudkan kesejahteraan (Keadilan Sosial), yang sangat sejahtera (Seadil-Adilnya) di bumi nusantara khusunya dan dunia pada umumnya.  Gajah Mada sangat yakin bahwa pada saatnya nanti Majapahit (Nusantara) akan bisa melahirkan salah satu Figur Ratu Adil. Keyakinan tersebut tumbuh karena dilihat dari agrarisnya wilayah, sejarah nasab bangsa, serta pembuktian-pembuktian alam mistiknya (Ghaib) yang ada di nusantara dan telah diakui dunia di antaranya: Candi Borobudur dan Candi Prambanan.
Tujuan mulia Gajah Mada belum terwujud, sirnalah harapannya seketika, karena sang raja yang dibesarkan dan diagungkannya mangkat (meninggal dunia). Sebagai negarawan yang gigih Sang Patih tetap masih mempertahankan tujuannya, beliau tetap setia kepada negara dan rakyatnya, juga sekaligus keturunan rajanya. Sang Patih tidak pernah terlintas keinginan, untuk merebut tahta kerajaan. Tetapi Sang Patih tetap sadar keadaan serta menyadari akan kodrat hidupnya yaitu: Sebagai Satria Pinandita (Satriya yang Berjiwa Pandita), Dalam langkah-langkah ketata negaraannya Gajah Mada tetap berpijak pada yang semestinya demi teguhnya pendirian untuk terwujudnya Figur RATU ADIL di nusantara. Sebagai bentuk pemberian suri tauladan atau Kaca Benggala terhadap rakyat, bangsa dan negaranya, beliau tetap mengabdi kepada Raja-raja Majapahit yang berikutnya hingga raja Majapahit terakhir.
Kodrat alam  dalam tata kehidupan manusia jelas-jelas tidak bisa dirobah, makin hari manusia makin tua, makin tua dan makin lemah fisiknya. Kerajaan Majapahitpun runtuh, satu demi satu wilayahnya memisahkan diri dari kekuasaan Majapahit. Pada masa pemerintahan Raja Brawijaya terakhir, karena tuanya usia, Gajah Mada hanya bisa sebagai sesepuh kerajaan saja. Semenjak itulah Gajah Mada Silih Asmo (ganti nama ) SABDA PALON yang mempunyai arti: Sabda = Ucapan, Palon = Panutan.
Pada masa agama Islam masuk ke Majapahit, beliau merasa bingung dengan paham agama yang dianutnya yaitu: BUDHA, Apalagi Putra Brawijaya yang terakhir yaitu: Raden Patah sebagai Pangeran (Putra Mahkota/Calon pengganti raja) sudah masuk Islam. Disaat itulah Sabda Palon (Gajah Mada) sudah tidak berdaya lagi. Di samping fisiknya sudah lemah, beliau juga tidak mau berontak atau bentrok dengan keturunan gustinya (Rajanya). Sejak saat itulah kerajaan Majapahit resmi keruntuhannya, tahta kerajaan diserahkan kepada Raden Patah. Ibu kota kerajan di pindah  ke Demak, nama kerajaanpun diganti DEMAK BINTARA (kerajaan Islam pertama di Jawa).
Bagaimana nasib Raja Brahwijaya terakhir, Sabda Palon dan segenap pengikut setianya? Karena mempertahankan pendirian maka mereka merasa tersisih. Dalam suasana yang sungguh penuh keharuan, mereka mengambil keputusan, untuk melakukan perjalanan pendekatan diri kepada Tuhan Sang Pencipta Alam. Sungguh dengan berat hati mereka berpisah untuk mencari tempat yang sepi dan cocok, demi heningnya indra dalam mendekatkan kepada Tuhannya. Raja Brahwijaya ke Gunung Lawu, sebagian pengikutnya ke Pulau Bali dan Gunung Tengger (Bromo). Sesuai dengan realita, hingga sekarang di Pulau Bali mayoritas masyarakat beragama HINDU DAN BUDHA, sedangkan di gunung Tengger adalah Bercokol sekelompok suku SAMIN.
Terurai di bawah ini, adalah penjelasan pengakuan sahadat sebagai penyelamat seluruh kehidupan perjalanan Ki Sabda Palon (patih Gajah Mada),  dalam menentukan tempat pertapaannya (Pendekatan Kepada Tuhan-Nya). Dalam hal ini sungguh sangat terkait peran mitosnya, antara Mitos Gunung Srandil dan Mitos Gunung Selok.  Dua dalam satu mitos inilah yang sungguh dan sesungguhnya tidak akan pernah bisa terpisahkan. Mengapa? Karena Sabda Palon adalah sosok hidup yang tidak mau lepas atau menyimpang apalagi ingkar dari pijakan nasab dan adab hidup, yang telah dikodratkan sebagai Pamong Wisnu di Nusantara. Berdasar pada itu, maka dicarilah dimana tempat wisnu berada. Hingga ketemulah di Gunung Selok. Demi terselesainya tugas-tugas hidup setiap manusia, ada sebuah kalimat jawa, yang menurut yang meyakini adalah suatu wasiat hidup dari Sabda Palon yaitu : Wong Urip Mono kudu Tansah Eling Mring Purwa Duksina. Yang artinya: Orang hidup itu harus selalu ingat kepada awalan dan akhiran hidupnya, yang maknanya: Dulu kita tidak ada, sekarang kita jadi ada dan kelak pasti akan sirna, Kemana? Jawabannya ada pada diri masing-masing, yang bersumber kepada rasa hayati.
Penulis sedikit bersumber kepada pustaka Cerita Mahabharata  Paramayuga. Dalam Cerita Mahabharata Paramayuga, diceritakan Sabda Palon (Kaki semar), dikodratkan sebagai Pamong Wisnu (Para Kesatria), atau para pemimpin bangsa di Pulau Dawa (Pulau Jawa). Diceritakan pula dalam Cerita Mahabharata  tersebut, Kaki Semar diturunkan dari kahyangan Ondar Andir Bawana (Petung Liung) sebagai Pamong  Wisnu  keturunan  Junggring Saloka        ( Junggring Seloka ) hingga akhir jaman. Maka Sabda Palon menentukan tempat bertapanya berada di sebelah timur Junggring Seloka yang sekarang lebih dikenal dengan Gunung Srandil. Terbukti di sebelah barat Gunung Srandil ada petilasan Sang Hyang Wisnu, tepatnya di Padepokan Jambe Pitu (Ampel Gading).
Sabda Palon sebelum bertapa bersumpah, yang sampai sekarang dikenal oleh masyarakat dengan Nama Sumpah Palapa. Sumpah Palapa adalah sumpah kebesaran Kaki Sabda Palon (Gajah Mada), yang mengandung makna sangat dalam. Sumpah tersebut diambil dari Huruf Jawa yang Kesebelas, Kesepuluh dan Kesebelas pula. Dalam buku ini penulis tidak akan menguraikan secara maksimal tentang sumpah palapa, yang jelas Sumpah Palapa kepanjangannya adalah:
PA            : Patokan (Pedoman)
LA            : Lakuning (Perjalanan Berjalan Menuju Ketenangan)
PA            : Pangeran (Tuhan/Pengayoman)
yang apabila dirangkaikan kepanjangan di atas, akan bermaksud: Pedoman pelajaran belajar tenang menuju ke pengayoman Tuhan.
Setelah mengetahui sumpah tersebut, apabila kita mau mengindahkan dan mengamalkan, penulis yakin akan pulih dan lebih meningkatnya kesadaran terhadap nasib dan adab bangsa masing-masing. Dengan demikian teraihlah dambaan masyarakat sedunia yaitu Perdamaian Dunia. Betapa damainya dunia, apabila perdamainan dunia terwujudkan. Itulah tanggungan kita yang dicipta paling mulia oleh Tuhan, agar memuliakan alam. Mari kita gunakan jeratan tali asih antar sesama dan antar bangsa. Hubungan tali asih adalah jalan jembatan emasnya. Menitilah dengan penuh keberhati-hatian. Peganglah tongkat rasa dan perasaan. Telitilah kembali pola-pola pijakan dan kebijakan yang mengarah ke kebajikan, dimana kebajikan adalah satu-satunya sarana kemuliaan.
Kembali kepada pokok materi mitos Gunung Srandil, jelaslah bahwa di Gunung Srandil tempat bersemayamnya Sang Pamong Nusantara dan bercokolnya Sumpah Palapa. Memperkuat persyaratan ini, adalah kenyataan bahwa sejak berdirinya NKRI, siapapun pemimpin (di Nusantara) bila tidak melakukan penghayatan ke Srandil biasanya tidak lama dan banyak mara bahayanya. 
Ketabahan dan keteguhan Sang Pamong Nusantara yang hidup hanya sebagai Kawula (pengabdi/rakyat kecil) adalah cambuk suri tauladan dan sekaligus kaca benggala bagi setiap kita, dalam kehidupan antara sesama, antar bangsa dan antar negara. Mengapa? karena setidaknya akan terkupaslah beberapa makna hidup diantaranya: Hidup adalah kesadaran, maka dari itu harus tetap sadar dan menyadari serta mau melaksanakan garis kodrat atau suratan tangan dengan senang dan tenang. Hidup bukan masalah maka hindarilah permasalahan dengan cara tidak menyalah-nyalahkan (mencela), ketahuilah bahwa hidup sesungguhnya bukan urusan dipimpin bukan jelek atau bagus, bukan kaya atau miskin tapi hidup adalah menyelesaikan tugas sebagai makhluk mulia, sesuai suratan tangannya dengan jalan darma.
Banyak sekali siratan sinar damai pada sosok Sang Pamong Nusantara, hanya sebagian penulis mengungkapkannya. Pendiriannya yang teguh untuk mewujudkan Figur Ratu Adil bukan katanya. Terbukti dengan ditempuhnya laku tapa brata yang takaranya bukan hari, bulan atau tahun, akan tetapi takaran zaman. Mengapa bisa takaran zaman? karena Sang Pamong Nusantara bukan manusia biasa, tetapi Pangejo Wantahan (titisan) dari Sang Hyang Ismoyo atau Kaki Semar (Sang Hyang Sejati).
Sebelum bertapa Sabda Palon bersabda: Ketahuilah wahai rakyat nusantara, pada saatnya nanti setelah saya bertapa selama 78 (tujuh puluh delapan) alip/ tujuh puluh delapan windu (78 x 8 th) atau setelah lima zaman, maka di Nusantara khususnya tanah Jawa akan muncul figur Ratu Adil. Di situlah tiba saatnya Jawa Bali Madep Sawiji (kembalinya tradisi nusantara sejati). Selain itu tiba saatnya pula nusantara menjadi Kiblating Jagad Pancering bawana (tempat suri tauladan bangsa-bangsa di muka bumi) keadaan rakyat (manusia dan alam rayanya berikut mahluk-makhluk lainnya) sedunia akan hangidung agung keadilan lan kemakmuran ( bernyanyi besar/ sorak soray atas kesejahteraan dan kemakmurannya), karena telah terjabar pengakuan rasa hidup yang merata atas keadilan Tuhannya, yang kaya tidak menganggap yang miskin pasti sengsara, karena dunia telah diselimuti tali asih sesamanya, semoga semua ini bukan hanya sekedar mitos, tetapi kenyataan adanya di Gunung Srandil Sang Pamong Nusantara berada, yang oleh para ritualis dikenal dengan nama Kaki Tunggul Sabda Jati Daya Among Raga.


Sumber: Buku Srandil & Selok Karya Sidik Purnama Negara 
 

Mitos Gunung Srandil



MITOS GUNUNG SRANDIL


M
I
T
O
S

G
U
N
U
N
G

S
R
A
N
D
I
L

 
Sejauh pengetahuan penulis, mitos adalah: cerita lama yang boleh dipercaya dan boleh tidak. Dalam karya ini, sama sekali tidak ada arus penekanan kepercayaan, percaya atau keharusan untuk mempercayai. Menurut penulis, kepercayaan itu telah ada dan berada jauh sebelum kita-kita terlahir ke dunia. Kepercayaan telah ada dan tertanam oleh Tuhan, kepada setiap insan seiring dengan awal diciptakannya makhluk-makhluk Tuhan. Kepercayaan akan selalu berkembang pada tiap-tiap insan sesuai dengan situasi naluri yang dikehendaki Tuhan, hingga berada di lubuk-lubuk yang sangat dalam, sampai tidak ada yang lebih dalam. Oleh sebab itu, banyak kalangan mengatakan pada hakekatnya kepercayaan yang sesungguhnya, tidak akan pernah goyah walau badai menerjang dan harimau menerkam. Atas dasar itulah, perkenankan penulis mengawali pemaparan yang belum pernah terpaparkan yaitu MITOS GUNUNG SRANDIL DAN SELOK dalam Karya Buku ini.
Seiring dengan perkembangan jaman saat ini, kita sering terperdaya dengan dampak-dampak tertentu. Perkembangan suatu zaman jelas tidak akan pernah lepas dengan perkembangan imajinasi manusia. Kita sebagai manusia, yang dikodratkan menjadi makhluk paling sempurna, alangkah bijaksananya apabila mau berimajinasi dari A sampai Z, artinya: mulai dari proses terjadinya alam semesta serta perobahan dari zaman ke zaman hingga kini kita berada pada zaman yang sedang kita hadapi.
Berbicara mengenai daya imajinasi secara lahir batin, tentu saja kita akan mengenal beberapa bagian dari ilmu, diantaranya; Ilmu Matematika (Ilmu Pasti), dan Ilmu Metafisika (Ilmu Tidak Pasti). Ilmu Matematika mempelajari kepastian secara lahiriah sedangkan Ilmu Metafisika mempelajari kepastian secara batiniah. Karena Ilmu  Metafisika mempelajari kepastian secara bantiniah, sedangkan batin adalah abstrak adanya, maka ilmu metafisika sangat erat dengan Ketuhanan atau cenderung mempelajari tentang keagungan dan kekuasan Tuhan, Sang Pencipta Alam. Berkaitan dengan mitos Gunung Srandil, sungguh sangat erat kaitannya dengan ilmu metafisika.
Pengetahuan mitos Gunung Srandil, tidak jauh daya imajinasi pembaca, saya ajak mengenal kembali sejarah kerajaan MAJAPAHIT, dari Dinasti Majapahit kita akan tahu Raja Brawijaya Ke I hingga Raja Brawijaya Ke V atau yang terakhir. Ada, tumbuh, berkembang, berubah dan musnah, adalah salah satu bagian dari hukum alam yang penuh kepastian. Dinasti Majapahit telah mencatat negara kesatuan atau negara nasional ke II di nusantara setelah kerajaan SRIWIJAYA, kejayaan kerajaan Majapahit yaitu,  pada masa pemerintahan raja Brahwijaya Ke-3 ( Tiga ), yang dikenal dengan julukan Prabu  Hayam Wuruk dengan Gelarnya : Sri Baginda Rajasa Negara. Pada saat itulah dikenal pula  seorang Patih dan sekaligus panglima perangnya, sebagai negarawan yang gagah, gigih, dan perkasa, dalam memper juangkan wilayah serta kesejahteraan rakyatnya yaitu : PATIH GAJAH MADA.
Patih Gajah Mada bertujuan sangat luhur, Sang Patih akan mewujudkan kesejahteraan (Keadilan Sosial), yang sangat sejahtera (Seadil-Adilnya) di bumi nusantara khusunya dan dunia pada umumnya.  Gajah Mada sangat yakin bahwa pada saatnya nanti Majapahit (Nusantara) akan bisa melahirkan salah satu Figur Ratu Adil. Keyakinan tersebut tumbuh karena dilihat dari agrarisnya wilayah, sejarah nasab bangsa, serta pembuktian-pembuktian alam mistiknya (Ghaib) yang ada di nusantara dan telah diakui dunia di antaranya: Candi Borobudur dan Candi Prambanan.
Tujuan mulia Gajah Mada belum terwujud, sirnalah harapannya seketika, karena sang raja yang dibesarkan dan diagungkannya mangkat (meninggal dunia). Sebagai negarawan yang gigih Sang Patih tetap masih mempertahankan tujuannya, beliau tetap setia kepada negara dan rakyatnya, juga sekaligus keturunan rajanya. Sang Patih tidak pernah terlintas keinginan, untuk merebut tahta kerajaan. Tetapi Sang Patih tetap sadar keadaan serta menyadari akan kodrat hidupnya yaitu: Sebagai Satria Pinandita (Satriya yang Berjiwa Pandita), Dalam langkah-langkah ketata negaraannya Gajah Mada tetap berpijak pada yang semestinya demi teguhnya pendirian untuk terwujudnya Figur RATU ADIL di nusantara. Sebagai bentuk pemberian suri tauladan atau Kaca Benggala terhadap rakyat, bangsa dan negaranya, beliau tetap mengabdi kepada Raja-raja Majapahit yang berikutnya hingga raja Majapahit terakhir.
Kodrat alam  dalam tata kehidupan manusia jelas-jelas tidak bisa dirobah, makin hari manusia makin tua, makin tua dan makin lemah fisiknya. Kerajaan Majapahitpun runtuh, satu demi satu wilayahnya memisahkan diri dari kekuasaan Majapahit. Pada masa pemerintahan Raja Brawijaya terakhir, karena tuanya usia, Gajah Mada hanya bisa sebagai sesepuh kerajaan saja. Semenjak itulah Gajah Mada Silih Asmo (ganti nama ) SABDA PALON yang mempunyai arti: Sabda = Ucapan, Palon = Panutan.
Pada masa agama Islam masuk ke Majapahit, beliau merasa bingung dengan paham agama yang dianutnya yaitu: BUDHA, Apalagi Putra Brawijaya yang terakhir yaitu: Raden Patah sebagai Pangeran (Putra Mahkota/Calon pengganti raja) sudah masuk Islam. Disaat itulah Sabda Palon (Gajah Mada) sudah tidak berdaya lagi. Di samping fisiknya sudah lemah, beliau juga tidak mau berontak atau bentrok dengan keturunan gustinya (Rajanya). Sejak saat itulah kerajaan Majapahit resmi keruntuhannya, tahta kerajaan diserahkan kepada Raden Patah. Ibu kota kerajan di pindah  ke Demak, nama kerajaanpun diganti DEMAK BINTARA (kerajaan Islam pertama di Jawa).
Bagaimana nasib Raja Brahwijaya terakhir, Sabda Palon dan segenap pengikut setianya? Karena mempertahankan pendirian maka mereka merasa tersisih. Dalam suasana yang sungguh penuh keharuan, mereka mengambil keputusan, untuk melakukan perjalanan pendekatan diri kepada Tuhan Sang Pencipta Alam. Sungguh dengan berat hati mereka berpisah untuk mencari tempat yang sepi dan cocok, demi heningnya indra dalam mendekatkan kepada Tuhannya. Raja Brahwijaya ke Gunung Lawu, sebagian pengikutnya ke Pulau Bali dan Gunung Tengger (Bromo). Sesuai dengan realita, hingga sekarang di Pulau Bali mayoritas masyarakat beragama HINDU DAN BUDHA, sedangkan di gunung Tengger adalah Bercokol sekelompok suku SAMIN.
Terurai di bawah ini, adalah penjelasan pengakuan sahadat sebagai penyelamat seluruh kehidupan perjalanan Ki Sabda Palon (patih Gajah Mada),  dalam menentukan tempat pertapaannya (Pendekatan Kepada Tuhan-Nya). Dalam hal ini sungguh sangat terkait peran mitosnya, antara Mitos Gunung Srandil dan Mitos Gunung Selok.  Dua dalam satu mitos inilah yang sungguh dan sesungguhnya tidak akan pernah bisa terpisahkan. Mengapa? Karena Sabda Palon adalah sosok hidup yang tidak mau lepas atau menyimpang apalagi ingkar dari pijakan nasab dan adab hidup, yang telah dikodratkan sebagai Pamong Wisnu di Nusantara. Berdasar pada itu, maka dicarilah dimana tempat wisnu berada. Hingga ketemulah di Gunung Selok. Demi terselesainya tugas-tugas hidup setiap manusia, ada sebuah kalimat jawa, yang menurut yang meyakini adalah suatu wasiat hidup dari Sabda Palon yaitu : Wong Urip Mono kudu Tansah Eling Mring Purwa Duksina. Yang artinya: Orang hidup itu harus selalu ingat kepada awalan dan akhiran hidupnya, yang maknanya: Dulu kita tidak ada, sekarang kita jadi ada dan kelak pasti akan sirna, Kemana? Jawabannya ada pada diri masing-masing, yang bersumber kepada rasa hayati.
Penulis sedikit bersumber kepada pustaka Cerita Mahabharata  Paramayuga. Dalam Cerita Mahabharata Paramayuga, diceritakan Sabda Palon (Kaki semar), dikodratkan sebagai Pamong Wisnu (Para Kesatria), atau para pemimpin bangsa di Pulau Dawa (Pulau Jawa). Diceritakan pula dalam Cerita Mahabharata  tersebut, Kaki Semar diturunkan dari kahyangan Ondar Andir Bawana (Petung Liung) sebagai Pamong  Wisnu  keturunan  Junggring Saloka        ( Junggring Seloka ) hingga akhir jaman. Maka Sabda Palon menentukan tempat bertapanya berada di sebelah timur Junggring Seloka yang sekarang lebih dikenal dengan Gunung Srandil. Terbukti di sebelah barat Gunung Srandil ada petilasan Sang Hyang Wisnu, tepatnya di Padepokan Jambe Pitu (Ampel Gading).
Sabda Palon sebelum bertapa bersumpah, yang sampai sekarang dikenal oleh masyarakat dengan Nama Sumpah Palapa. Sumpah Palapa adalah sumpah kebesaran Kaki Sabda Palon (Gajah Mada), yang mengandung makna sangat dalam. Sumpah tersebut diambil dari Huruf Jawa yang Kesebelas, Kesepuluh dan Kesebelas pula. Dalam buku ini penulis tidak akan menguraikan secara maksimal tentang sumpah palapa, yang jelas Sumpah Palapa kepanjangannya adalah:
PA            : Patokan (Pedoman)
LA            : Lakuning (Perjalanan Berjalan Menuju Ketenangan)
PA            : Pangeran (Tuhan/Pengayoman)
yang apabila dirangkaikan kepanjangan di atas, akan bermaksud: Pedoman pelajaran belajar tenang menuju ke pengayoman Tuhan.
Setelah mengetahui sumpah tersebut, apabila kita mau mengindahkan dan mengamalkan, penulis yakin akan pulih dan lebih meningkatnya kesadaran terhadap nasib dan adab bangsa masing-masing. Dengan demikian teraihlah dambaan masyarakat sedunia yaitu Perdamaian Dunia. Betapa damainya dunia, apabila perdamainan dunia terwujudkan. Itulah tanggungan kita yang dicipta paling mulia oleh Tuhan, agar memuliakan alam. Mari kita gunakan jeratan tali asih antar sesama dan antar bangsa. Hubungan tali asih adalah jalan jembatan emasnya. Menitilah dengan penuh keberhati-hatian. Peganglah tongkat rasa dan perasaan. Telitilah kembali pola-pola pijakan dan kebijakan yang mengarah ke kebajikan, dimana kebajikan adalah satu-satunya sarana kemuliaan.
Kembali kepada pokok materi mitos Gunung Srandil, jelaslah bahwa di Gunung Srandil tempat bersemayamnya Sang Pamong Nusantara dan bercokolnya Sumpah Palapa. Memperkuat persyaratan ini, adalah kenyataan bahwa sejak berdirinya NKRI, siapapun pemimpin (di Nusantara) bila tidak melakukan penghayatan ke Srandil biasanya tidak lama dan banyak mara bahayanya. 
Ketabahan dan keteguhan Sang Pamong Nusantara yang hidup hanya sebagai Kawula (pengabdi/rakyat kecil) adalah cambuk suri tauladan dan sekaligus kaca benggala bagi setiap kita, dalam kehidupan antara sesama, antar bangsa dan antar negara. Mengapa? karena setidaknya akan terkupaslah beberapa makna hidup diantaranya: Hidup adalah kesadaran, maka dari itu harus tetap sadar dan menyadari serta mau melaksanakan garis kodrat atau suratan tangan dengan senang dan tenang. Hidup bukan masalah maka hindarilah permasalahan dengan cara tidak menyalah-nyalahkan (mencela), ketahuilah bahwa hidup sesungguhnya bukan urusan dipimpin bukan jelek atau bagus, bukan kaya atau miskin tapi hidup adalah menyelesaikan tugas sebagai makhluk mulia, sesuai suratan tangannya dengan jalan darma.
Banyak sekali siratan sinar damai pada sosok Sang Pamong Nusantara, hanya sebagian penulis mengungkapkannya. Pendiriannya yang teguh untuk mewujudkan Figur Ratu Adil bukan katanya. Terbukti dengan ditempuhnya laku tapa brata yang takaranya bukan hari, bulan atau tahun, akan tetapi takaran zaman. Mengapa bisa takaran zaman? karena Sang Pamong Nusantara bukan manusia biasa, tetapi Pangejo Wantahan (titisan) dari Sang Hyang Ismoyo atau Kaki Semar (Sang Hyang Sejati).
Sebelum bertapa Sabda Palon bersabda: Ketahuilah wahai rakyat nusantara, pada saatnya nanti setelah saya bertapa selama 78 (tujuh puluh delapan) alip/ tujuh puluh delapan windu (78 x 8 th) atau setelah lima zaman, maka di Nusantara khususnya tanah Jawa akan muncul figur Ratu Adil. Di situlah tiba saatnya Jawa Bali Madep Sawiji (kembalinya tradisi nusantara sejati). Selain itu tiba saatnya pula nusantara menjadi Kiblating Jagad Pancering bawana (tempat suri tauladan bangsa-bangsa di muka bumi) keadaan rakyat (manusia dan alam rayanya berikut mahluk-makhluk lainnya) sedunia akan hangidung agung keadilan lan kemakmuran ( bernyanyi besar/ sorak soray atas kesejahteraan dan kemakmurannya), karena telah terjabar pengakuan rasa hidup yang merata atas keadilan Tuhannya, yang kaya tidak menganggap yang miskin pasti sengsara, karena dunia telah diselimuti tali asih sesamanya, semoga semua ini bukan hanya sekedar mitos, tetapi kenyataan adanya di Gunung Srandil Sang Pamong Nusantara berada, yang oleh para ritualis dikenal dengan nama Kaki Tunggul Sabda Jati Daya Among Raga.


Sumber: Buku Srandil & Selok Karya Sidik Purnama Negara 
 

Mitos Gunung Srandil



MITOS GUNUNG SRANDIL


M
I
T
O
S

G
U
N
U
N
G

S
R
A
N
D
I
L

 
Sejauh pengetahuan penulis, mitos adalah: cerita lama yang boleh dipercaya dan boleh tidak. Dalam karya ini, sama sekali tidak ada arus penekanan kepercayaan, percaya atau keharusan untuk mempercayai. Menurut penulis, kepercayaan itu telah ada dan berada jauh sebelum kita-kita terlahir ke dunia. Kepercayaan telah ada dan tertanam oleh Tuhan, kepada setiap insan seiring dengan awal diciptakannya makhluk-makhluk Tuhan. Kepercayaan akan selalu berkembang pada tiap-tiap insan sesuai dengan situasi naluri yang dikehendaki Tuhan, hingga berada di lubuk-lubuk yang sangat dalam, sampai tidak ada yang lebih dalam. Oleh sebab itu, banyak kalangan mengatakan pada hakekatnya kepercayaan yang sesungguhnya, tidak akan pernah goyah walau badai menerjang dan harimau menerkam. Atas dasar itulah, perkenankan penulis mengawali pemaparan yang belum pernah terpaparkan yaitu MITOS GUNUNG SRANDIL DAN SELOK dalam Karya Buku ini.
Seiring dengan perkembangan jaman saat ini, kita sering terperdaya dengan dampak-dampak tertentu. Perkembangan suatu zaman jelas tidak akan pernah lepas dengan perkembangan imajinasi manusia. Kita sebagai manusia, yang dikodratkan menjadi makhluk paling sempurna, alangkah bijaksananya apabila mau berimajinasi dari A sampai Z, artinya: mulai dari proses terjadinya alam semesta serta perobahan dari zaman ke zaman hingga kini kita berada pada zaman yang sedang kita hadapi.
Berbicara mengenai daya imajinasi secara lahir batin, tentu saja kita akan mengenal beberapa bagian dari ilmu, diantaranya; Ilmu Matematika (Ilmu Pasti), dan Ilmu Metafisika (Ilmu Tidak Pasti). Ilmu Matematika mempelajari kepastian secara lahiriah sedangkan Ilmu Metafisika mempelajari kepastian secara batiniah. Karena Ilmu  Metafisika mempelajari kepastian secara bantiniah, sedangkan batin adalah abstrak adanya, maka ilmu metafisika sangat erat dengan Ketuhanan atau cenderung mempelajari tentang keagungan dan kekuasan Tuhan, Sang Pencipta Alam. Berkaitan dengan mitos Gunung Srandil, sungguh sangat erat kaitannya dengan ilmu metafisika.
Pengetahuan mitos Gunung Srandil, tidak jauh daya imajinasi pembaca, saya ajak mengenal kembali sejarah kerajaan MAJAPAHIT, dari Dinasti Majapahit kita akan tahu Raja Brawijaya Ke I hingga Raja Brawijaya Ke V atau yang terakhir. Ada, tumbuh, berkembang, berubah dan musnah, adalah salah satu bagian dari hukum alam yang penuh kepastian. Dinasti Majapahit telah mencatat negara kesatuan atau negara nasional ke II di nusantara setelah kerajaan SRIWIJAYA, kejayaan kerajaan Majapahit yaitu,  pada masa pemerintahan raja Brahwijaya Ke-3 ( Tiga ), yang dikenal dengan julukan Prabu  Hayam Wuruk dengan Gelarnya : Sri Baginda Rajasa Negara. Pada saat itulah dikenal pula  seorang Patih dan sekaligus panglima perangnya, sebagai negarawan yang gagah, gigih, dan perkasa, dalam memper juangkan wilayah serta kesejahteraan rakyatnya yaitu : PATIH GAJAH MADA.
Patih Gajah Mada bertujuan sangat luhur, Sang Patih akan mewujudkan kesejahteraan (Keadilan Sosial), yang sangat sejahtera (Seadil-Adilnya) di bumi nusantara khusunya dan dunia pada umumnya.  Gajah Mada sangat yakin bahwa pada saatnya nanti Majapahit (Nusantara) akan bisa melahirkan salah satu Figur Ratu Adil. Keyakinan tersebut tumbuh karena dilihat dari agrarisnya wilayah, sejarah nasab bangsa, serta pembuktian-pembuktian alam mistiknya (Ghaib) yang ada di nusantara dan telah diakui dunia di antaranya: Candi Borobudur dan Candi Prambanan.
Tujuan mulia Gajah Mada belum terwujud, sirnalah harapannya seketika, karena sang raja yang dibesarkan dan diagungkannya mangkat (meninggal dunia). Sebagai negarawan yang gigih Sang Patih tetap masih mempertahankan tujuannya, beliau tetap setia kepada negara dan rakyatnya, juga sekaligus keturunan rajanya. Sang Patih tidak pernah terlintas keinginan, untuk merebut tahta kerajaan. Tetapi Sang Patih tetap sadar keadaan serta menyadari akan kodrat hidupnya yaitu: Sebagai Satria Pinandita (Satriya yang Berjiwa Pandita), Dalam langkah-langkah ketata negaraannya Gajah Mada tetap berpijak pada yang semestinya demi teguhnya pendirian untuk terwujudnya Figur RATU ADIL di nusantara. Sebagai bentuk pemberian suri tauladan atau Kaca Benggala terhadap rakyat, bangsa dan negaranya, beliau tetap mengabdi kepada Raja-raja Majapahit yang berikutnya hingga raja Majapahit terakhir.
Kodrat alam  dalam tata kehidupan manusia jelas-jelas tidak bisa dirobah, makin hari manusia makin tua, makin tua dan makin lemah fisiknya. Kerajaan Majapahitpun runtuh, satu demi satu wilayahnya memisahkan diri dari kekuasaan Majapahit. Pada masa pemerintahan Raja Brawijaya terakhir, karena tuanya usia, Gajah Mada hanya bisa sebagai sesepuh kerajaan saja. Semenjak itulah Gajah Mada Silih Asmo (ganti nama ) SABDA PALON yang mempunyai arti: Sabda = Ucapan, Palon = Panutan.
Pada masa agama Islam masuk ke Majapahit, beliau merasa bingung dengan paham agama yang dianutnya yaitu: BUDHA, Apalagi Putra Brawijaya yang terakhir yaitu: Raden Patah sebagai Pangeran (Putra Mahkota/Calon pengganti raja) sudah masuk Islam. Disaat itulah Sabda Palon (Gajah Mada) sudah tidak berdaya lagi. Di samping fisiknya sudah lemah, beliau juga tidak mau berontak atau bentrok dengan keturunan gustinya (Rajanya). Sejak saat itulah kerajaan Majapahit resmi keruntuhannya, tahta kerajaan diserahkan kepada Raden Patah. Ibu kota kerajan di pindah  ke Demak, nama kerajaanpun diganti DEMAK BINTARA (kerajaan Islam pertama di Jawa).
Bagaimana nasib Raja Brahwijaya terakhir, Sabda Palon dan segenap pengikut setianya? Karena mempertahankan pendirian maka mereka merasa tersisih. Dalam suasana yang sungguh penuh keharuan, mereka mengambil keputusan, untuk melakukan perjalanan pendekatan diri kepada Tuhan Sang Pencipta Alam. Sungguh dengan berat hati mereka berpisah untuk mencari tempat yang sepi dan cocok, demi heningnya indra dalam mendekatkan kepada Tuhannya. Raja Brahwijaya ke Gunung Lawu, sebagian pengikutnya ke Pulau Bali dan Gunung Tengger (Bromo). Sesuai dengan realita, hingga sekarang di Pulau Bali mayoritas masyarakat beragama HINDU DAN BUDHA, sedangkan di gunung Tengger adalah Bercokol sekelompok suku SAMIN.
Terurai di bawah ini, adalah penjelasan pengakuan sahadat sebagai penyelamat seluruh kehidupan perjalanan Ki Sabda Palon (patih Gajah Mada),  dalam menentukan tempat pertapaannya (Pendekatan Kepada Tuhan-Nya). Dalam hal ini sungguh sangat terkait peran mitosnya, antara Mitos Gunung Srandil dan Mitos Gunung Selok.  Dua dalam satu mitos inilah yang sungguh dan sesungguhnya tidak akan pernah bisa terpisahkan. Mengapa? Karena Sabda Palon adalah sosok hidup yang tidak mau lepas atau menyimpang apalagi ingkar dari pijakan nasab dan adab hidup, yang telah dikodratkan sebagai Pamong Wisnu di Nusantara. Berdasar pada itu, maka dicarilah dimana tempat wisnu berada. Hingga ketemulah di Gunung Selok. Demi terselesainya tugas-tugas hidup setiap manusia, ada sebuah kalimat jawa, yang menurut yang meyakini adalah suatu wasiat hidup dari Sabda Palon yaitu : Wong Urip Mono kudu Tansah Eling Mring Purwa Duksina. Yang artinya: Orang hidup itu harus selalu ingat kepada awalan dan akhiran hidupnya, yang maknanya: Dulu kita tidak ada, sekarang kita jadi ada dan kelak pasti akan sirna, Kemana? Jawabannya ada pada diri masing-masing, yang bersumber kepada rasa hayati.
Penulis sedikit bersumber kepada pustaka Cerita Mahabharata  Paramayuga. Dalam Cerita Mahabharata Paramayuga, diceritakan Sabda Palon (Kaki semar), dikodratkan sebagai Pamong Wisnu (Para Kesatria), atau para pemimpin bangsa di Pulau Dawa (Pulau Jawa). Diceritakan pula dalam Cerita Mahabharata  tersebut, Kaki Semar diturunkan dari kahyangan Ondar Andir Bawana (Petung Liung) sebagai Pamong  Wisnu  keturunan  Junggring Saloka        ( Junggring Seloka ) hingga akhir jaman. Maka Sabda Palon menentukan tempat bertapanya berada di sebelah timur Junggring Seloka yang sekarang lebih dikenal dengan Gunung Srandil. Terbukti di sebelah barat Gunung Srandil ada petilasan Sang Hyang Wisnu, tepatnya di Padepokan Jambe Pitu (Ampel Gading).
Sabda Palon sebelum bertapa bersumpah, yang sampai sekarang dikenal oleh masyarakat dengan Nama Sumpah Palapa. Sumpah Palapa adalah sumpah kebesaran Kaki Sabda Palon (Gajah Mada), yang mengandung makna sangat dalam. Sumpah tersebut diambil dari Huruf Jawa yang Kesebelas, Kesepuluh dan Kesebelas pula. Dalam buku ini penulis tidak akan menguraikan secara maksimal tentang sumpah palapa, yang jelas Sumpah Palapa kepanjangannya adalah:
PA            : Patokan (Pedoman)
LA            : Lakuning (Perjalanan Berjalan Menuju Ketenangan)
PA            : Pangeran (Tuhan/Pengayoman)
yang apabila dirangkaikan kepanjangan di atas, akan bermaksud: Pedoman pelajaran belajar tenang menuju ke pengayoman Tuhan.
Setelah mengetahui sumpah tersebut, apabila kita mau mengindahkan dan mengamalkan, penulis yakin akan pulih dan lebih meningkatnya kesadaran terhadap nasib dan adab bangsa masing-masing. Dengan demikian teraihlah dambaan masyarakat sedunia yaitu Perdamaian Dunia. Betapa damainya dunia, apabila perdamainan dunia terwujudkan. Itulah tanggungan kita yang dicipta paling mulia oleh Tuhan, agar memuliakan alam. Mari kita gunakan jeratan tali asih antar sesama dan antar bangsa. Hubungan tali asih adalah jalan jembatan emasnya. Menitilah dengan penuh keberhati-hatian. Peganglah tongkat rasa dan perasaan. Telitilah kembali pola-pola pijakan dan kebijakan yang mengarah ke kebajikan, dimana kebajikan adalah satu-satunya sarana kemuliaan.
Kembali kepada pokok materi mitos Gunung Srandil, jelaslah bahwa di Gunung Srandil tempat bersemayamnya Sang Pamong Nusantara dan bercokolnya Sumpah Palapa. Memperkuat persyaratan ini, adalah kenyataan bahwa sejak berdirinya NKRI, siapapun pemimpin (di Nusantara) bila tidak melakukan penghayatan ke Srandil biasanya tidak lama dan banyak mara bahayanya. 
Ketabahan dan keteguhan Sang Pamong Nusantara yang hidup hanya sebagai Kawula (pengabdi/rakyat kecil) adalah cambuk suri tauladan dan sekaligus kaca benggala bagi setiap kita, dalam kehidupan antara sesama, antar bangsa dan antar negara. Mengapa? karena setidaknya akan terkupaslah beberapa makna hidup diantaranya: Hidup adalah kesadaran, maka dari itu harus tetap sadar dan menyadari serta mau melaksanakan garis kodrat atau suratan tangan dengan senang dan tenang. Hidup bukan masalah maka hindarilah permasalahan dengan cara tidak menyalah-nyalahkan (mencela), ketahuilah bahwa hidup sesungguhnya bukan urusan dipimpin bukan jelek atau bagus, bukan kaya atau miskin tapi hidup adalah menyelesaikan tugas sebagai makhluk mulia, sesuai suratan tangannya dengan jalan darma.
Banyak sekali siratan sinar damai pada sosok Sang Pamong Nusantara, hanya sebagian penulis mengungkapkannya. Pendiriannya yang teguh untuk mewujudkan Figur Ratu Adil bukan katanya. Terbukti dengan ditempuhnya laku tapa brata yang takaranya bukan hari, bulan atau tahun, akan tetapi takaran zaman. Mengapa bisa takaran zaman? karena Sang Pamong Nusantara bukan manusia biasa, tetapi Pangejo Wantahan (titisan) dari Sang Hyang Ismoyo atau Kaki Semar (Sang Hyang Sejati).
Sebelum bertapa Sabda Palon bersabda: Ketahuilah wahai rakyat nusantara, pada saatnya nanti setelah saya bertapa selama 78 (tujuh puluh delapan) alip/ tujuh puluh delapan windu (78 x 8 th) atau setelah lima zaman, maka di Nusantara khususnya tanah Jawa akan muncul figur Ratu Adil. Di situlah tiba saatnya Jawa Bali Madep Sawiji (kembalinya tradisi nusantara sejati). Selain itu tiba saatnya pula nusantara menjadi Kiblating Jagad Pancering bawana (tempat suri tauladan bangsa-bangsa di muka bumi) keadaan rakyat (manusia dan alam rayanya berikut mahluk-makhluk lainnya) sedunia akan hangidung agung keadilan lan kemakmuran ( bernyanyi besar/ sorak soray atas kesejahteraan dan kemakmurannya), karena telah terjabar pengakuan rasa hidup yang merata atas keadilan Tuhannya, yang kaya tidak menganggap yang miskin pasti sengsara, karena dunia telah diselimuti tali asih sesamanya, semoga semua ini bukan hanya sekedar mitos, tetapi kenyataan adanya di Gunung Srandil Sang Pamong Nusantara berada, yang oleh para ritualis dikenal dengan nama Kaki Tunggul Sabda Jati Daya Among Raga.


Sumber: Buku Srandil & Selok Karya Sidik Purnama Negara